Sabtu, 31 Maret 2012

RENCANA KEGIATAN : JADWAL PERTEMUAN KOORDINASI DI BPP KALIASIN TAHUN 2012 (REVISI)


































NO HARI/                   TANGGAL MATERI
1 Selasa, 10 Jan 2012 Teknik Memilih Metode Penyuluhan Pertanian
2 Selasa, 24 Jan 2012 Menyusun Dampak Penyuluhan Pertanian
3 Selasa, 14 Peb 2012 Pengembangan Kelompok Tani Ternak
4 Selasa, 28 Peb 2012 Pembinaan Pegawai
5 Selasa, 13 Mar 2012 Teknik Membuat Peta Komoditas Spesifik Lokasi
6 Selasa, 27 Mar 2012 Pembinaan Kelompok Tani
7 Selasa, 10 Apr 2012 Laporan Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan
8 Selasa, 24 Apr 2012 Analisis Usahatani Komoditi Spesifik Lokasi
9 Selasa, 8 Mei 2012 Kemitraan Usaha Agribisnis
10 Selasa, 22 Mei 2012 Teknik Membuat Peta Singkap
11 Selasa, 12 Jun 2012 Teknik Menyusun Materi Penyuluhan Pertanian
12 Selasa, 26 Jun 2012 Penyusunan Impact Point
13 Selasa, 10 Jul 2012 Identifikasi Potensi Wilayah
14 Selasa, 24 Jul 2012 Pelaksanaan PRA
15 Selasa, 14 Ags 2012 Penyusunan Programa Desa
16 Selasa, 28 Agus 2012 Teknik Membuat LPM
17 Selasa, 11 Sep 2012 Penyusunan Programa Kecamatan/ BPP
18 Selasa, 25 Sep 2012 Teknik Membuat Media Brosur
19 Selasa, 9 Okt 2012 Administrasi Penyuluh Pertanian
20 Selasa, 23 Okt 2012 Teknik Membuat Media Folder
21 Selasa, 13 Nop 2012 Penyusunan Pola Tanam
22 Selasa, 27 Nop 2012 Menyusun Rencana Kerja Tahunan Penyuluh
23 Selasa, 11 Des 2012 Metode Mimbar Sarasehan
24 Rabu, 26 Des 2012 Evaluasi RKPP dan Progarama 2012





































































                 

RENCANA KEGIATAN : JADWAL MONITORING GAPOKTAN PUAP DI BPP KALIASIN TAHUN 2012

Jadwal pembinaan, monitoring dan evaluasi Gapoktan penerima BLM PUAP Tahun 2012 di Wilayah BPP Kaliasin dari Tim Teknis PUAP Kabupaten Tangerang adalah sebagai berikut :

Tim Teknis PUAP Kabupaten Tangerang :
1. BKP3M Kabupaten Tangerang
2. Dinas Pertanian dan Peternakan Kab.Tangerang
3. Penyelia Mitra Tani (PMT)

Gapoktan penerima BLM PUAP di BPP Kaliasin :
1. Gembong Sejahtera Desa Gembong Kecamatan Balaraja
2. Saga Sejahtera Desa Saga Kecamatan Balaraja
3. Bina Tani Sejahtera Desa Tobat Kecamatan Balaraja
4. Mulya Tani Desa Sukamulya Kecamatan Sukamulya
5. Alam Makmur Desa Kaliasin Kecamatan Sukamulya
6. Kubang Kiara Desa Kubang Kecamatan Sukamulya
7. Melati Jaya Desa Bunar Kecamatan Sukamulya
8. Sadulur Desa Benda Kecamatan Sukamulya
9. Buniasih Desa Buniayu kecamatan Sukamulya
10. Bunga Mekar Desa Merak kecamatan Sukamulya
11. Parahu Makmur Desa Parahu Kecamatan Sukamulya
12. Setia warga Desa Pasirampo Kecamatan Kresek
13. Subur jaya Desa Koper kecamatan Kresek
14. Sri makmur Desa Renged Kecamatan Kresek
15. Tunas Mekar Utama Desa Jengkol Kecamatan Kresek
16. Bina Tani Desa Patrasana Kecamatan Kresek
17. Sumber Makmur Desa Rancailat Kecamatan Kresek
18. Mulyasari Desa Pangkat Kecamatan Jayanti
19. Bunga Makmur Desa Pasirmuncang Kecamatan Jayanti
20. Subur Makmur Desa Pabuaran Kecamatan Jayanti
21. Sari Indah Desa Pasirgintung Kecamatan Jayanti
22. Hikmah Tani Desa Cikande Kecamatan Jayanti
23. Sugih tani Desa Sumur Bandung Kecamatan Jayanti

Jadwal Monitoring Tahun 2012 :
1. Tanggal 19 Januari 2012
2. tanggal 19 April 2012
3. Tanggal 19 Juli 2012
4. Tanggal 27 Nopember 2012

PENGETAHUAN : SIFAT MANUSIA BERDASARKAN GOLONGAN DARAH


Selain karakteristik berdasarkan zodiak, ada Menurut primbon Jawa, sifat orang dapat dilihat berdasarkan golongan darahnya.

Gologan darah A

1. Biasanya orang yang bergolongan darah A ini berkepala dingin, serius, sabar dan kalem atau cool, bahasa kerennya.
2. Orang yang bergolongan darah A ini mempunyai karakter yang tegas, bisa di andalkan dan dipercaya namun keras kepala.
3. Sebelum melakukan sesuatu mereka memikirkannya terlebih dahulu. Dan merencanakan segala sesuatunya secara matang. Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan secara konsisten.
4. Mereka berusaha membuat diri mereka se wajar dan ideal mungkin.
5. Mereke bisa kelihatan menyendiri dan jauh dari orang-orang.
6. mereka mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya mereka terlihat tegar. Meskipun sebenarnya mereka mempunya sisi yang lembek seperti gugup dan lain sebagainya.
7. Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat. Makanya mereka cenderung berada di sekitar orang-orang yang ber’temperamen’ sama.


Golongan darah B

1. Orang yang bergolongan darah B ini cenderung penasaran dan tertarik terhadap segalanya.
2. Mereka juga cenderung mempunyai terlalu banyak kegemaran dan hobby. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu namun cepat juga bosan.
3. Tapi biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang di kerjakannya.
4. Mereka cenderung ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Dan biasanya mereka cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan.
5. Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan yang ada didalam diri mereka.
6. Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang.

Gologan darah O

1. Orang yang bergolongan darah O, mereka ini biasanya berperan dalam menciptakan gairah untuk suatu grup. Dan berperan dalam menciptakan suatu keharmonisan diantara para anggota grup tersebut.
2. Figur mereka terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksakan sesuatu dengan tenang. Mereka pandai menutupi sesuatu sehingga mereka kelihatan selalu riang, damai dan tidak punya masalah sama sekali. Tapi kalau tidak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat (tempat mengadu).
3. Mereka biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan. Mereka dermawan dan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain.
4. Mereka biasanya di cintai oleh semua orang, “loved by all”. Tapi mereka sebenarnya keras kepala juga, dan secara rahasia mempunyai pendapatnya sendiri tentang berbagai hal.
5. Dilain pihak, mereka sangat fleksibel dan sangat mudah menerima hal-hal yang baru.
6. Mereka cenderung mudah di pengaruhi oleh orang lain dan oleh apa yang mereka lihat dari TV.
7. Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya tapi mereka sering tergelincir dan membuat kesalahan yang besar karena kurang berhati-hati. Tapi hal itu yang menyebabkan orang yang bergolongan darah O ini di cintai.

Gologan darah AB
1. Orang yang bergolongan darah AB ini mempunyai perasaan yang sensitif, lembut.
2. Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang lain dengan kepedulian serta kehati-hatian.
3. Disamping itu mereka keras dengan diri mereka sendiri juga dengan orang-orang yang dekat dengannya.
4. Mereka jadi cenderung kelihatan mempunyai dua kepribadian.
5. Mereka sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.
6. Mereka mempunyai banyak teman, tapi mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.

Jumat, 30 Maret 2012

SEJARAH KABUPATEN TANGERANG



MEMBEDAH KABUPATEN TANGERANG, tak bisa mengabaikan perjalanan panjang sejarah Kabupaten Tangerang itu sendiri. Di masa lalu Kabupaten Tangerang pernah menjadi bagian dari wilayah Kerajaan Tarumanagara, sebuah kerajaan paling tua di Pulau Jawa.
Pada abad kelima Masehi, di Jawa Barat terdapat sebuah kerajaan yang dikenal dengan nama Tarumanagara yang dipimpin oleh Raja Purnawarman.
Mengenai riwayat kerajaan ini dapat dilihat dari tujuh prasasti yang masing-masing ditemukan di wilayah Bogor, Bekasi, Pandeglang dan Lebak. Ketujuh prasasti tersebut adalah; Prasasti Ciaruteun, Prasasti Jambu, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Pasir Awi, Prasasti Muara Cianten, Prasasti Lebak, dan Prasasti Tugu. Dari ketujuh prasasti tersebut, dapat diketahui bahwa Tangerang yang berada di tengah-tengah daerah Bogor, Bekasi dan Lebak itu, merupakan bagian dari wilayah Kerajaan Tarumanagara. Menurut Purbatjaraka, seorang ahli sejarah, lokasi ibukota Kerajaan Tarumanagara yang dipimpin oleh Raja Purnawarman itu berada di bagian sebelah timur Sungai Cisadane, dengan batas sebelah timur Sungai Citarum.
Dalam naskah Pangeran Wangsakerta yang disusun oleh Danasasmita, disebutkan bahwa, telah terjadi pemindahan ibukota Kerajaan Tarumanagara, yang semula berada di Jayasingawarman sekitar Kecamatan Jasinga (wilayah perbatasan antara Kabupaten Bogor dan Kabupaten Lebak) dipindahkan ke Sundapurabhaga, di pesisir utara Bekasi. Adapun tentang muara Sungai Cisadane yang pernah menjadi tempat kegiatan perdagangan, dibuktikan pada berita yang dicatat Tome Pires tahun 1513.

Pada waktu itu, Kerajaan Tarumanagara telah sirna, yang selanjutnya digantikan oleh Kerajaan Sunda. Tome Pirres adalah seorang Portugis yang melakukan perjalanan laut menyusuri pesisir berbagai pulau di Nusantara sambil mengunjungi kota-kota pelabuhannya. Tome Pires menyebutkan, ada enam buah kota pelabuhan yang masuk dalam wilayah Kerajaan Sunda. Keenam kota pelabuhan itu adalah, Bantam (Banten), Pomdag (Pontang), Chegujde (Cikande), Tamgara (Tangerang), Calapa (Sunda Kelapa), dan Chemano (Cimanuk). Keenam kota pelabuhan tersebut dapat diidentifikasi sebagai kota-kota pelabuhan Banten, Pontang, Cikande, Tangerang, Kalapa (Sunda Kelapa), dan Cimanuk.

Kedudukan Tangerang
Sejak Kesultanan Banten berdiri dan Jayakarta digabungkan dengan wilayah Kesultanan Banten, maka daerah Tangerang merupakan bagian dari wilayah Kesultanan Banten. Yang dimakud dengan daerah Tangerang adalah, daerah yang berada di sebelah barat dan timur aliran Sungai Cisadane bagian hilir.

Pada waktu itu, kedudukan daerah Tangerang dalam struktur pemerintahan Kesultanan Banten belum begitu jelas. Berdasarkan sumber tradisi setempat di Tangerang, disebutkan bahwa sekitar tahun 1670 antara Banten, Sumedang, dan Cirebon terjadi hubungan politik dan perdagangan. Sejalan dengan hal tersebut, pada akhir tahun 1680 terjadi pertemuan antara Sultan Banten dengan wakil penguasa Sumedang dan Cirebon yang dilangsungkan di sebuah tempat bernama Pesanggarahan, kota pertama di daerah Tangerang pedalaman.

Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa kedudukan Tangerang dalam struktur pemerintahan Kesultanan Banten adalah Kemaulanaan dengan ibukotanya Pasanggarahan. Wilayah kekuasaan Kemaulanaan Tangerang mencakup Tangerang, Jasinga, dan Lebak. Kemaulanaan ini dipimpin oleh tiga orang tumenggung yang berasal dari Sumedang. Ketiga tumenggung itu adalah, Tumenggung Aria Yudanegara, Tumenggung Aria Wangsakara, dan Tumenggung Aria Santika. Triumvirat ini disebut Tigaraksa (bermakna: tiga pemimpin atau tiga tiang).  Meskipun telah terjadi perjanjian antara Sultan Haji dengan Kompeni (17 April 1684), namun ketiga Tumenggung tersebut masih tetap melakukan perlawanan terhadap kompeni. Sayang, upaya mereka gagal. Bahkan, secara berturut-turut mereka gugur dalam pertempuran. Tumenggung Aria Santika gugur dalam pertempuran di Kebon Besar (tahun 1717), dan dimakamkan di Batuceper, tepatnya di Keramat Asem.

Setahun kemudian, tepatnya 1718, Tumenggung Aria Yudanegara pun gugur dalam pertempuran di Cikokol, dan dimakamkan di Desa Sangiang.Kemudian, pada tahun 1720, Tumenggung Aria Wangsakara, gugur dalam pertempuran di Ciledug, dan dimakamkan di Lengkong Kulon (Lengkong Sumedang). Dengan gugurnya ketiga tumenggung tersebut, maka pada tahun 1720 itu pula, Kemaulanaan Tangerang pun telah berakhir.


Terbentuknya DPRD di Tangerang
Perubahan paling mendasar dalam Decentralisatiewet tahun 1930 ialah, adanya peluang untuk membentuk Badan Perwakilan Rakyat Lokal (Locale Raad), mulai dari Gewestelijke Raad, Plaatselijke Raad hingga Gemene Raad (Badan Perwakilan Rakyat tingkat Provinsi). Badan-badan perwakilan itu, memiliki hak untuk mengatur serta mengurus rumah tangga wilayah masing-masing.

Waktu itu, satu-satunya daerah yang membentuk Badan Perwakilan Rakyat hanya Batavia (Jakarta) dengan membentuk Badan Perwakilan Rakyat yang disebut Batavia Gemeente Raad (1905). Maka tak heran, jika Batavia Gemeente Raad pun sering disebut sebagai cikal bakal Parlemen di Indonesia. Namun, menurut laporan Lembaga Penelitian Universitas Indonesia, Badan Perwakilan Rakyat yang pertama di Indonesia adalah Volksraad, yang dibentuk pada tanggal 16 Desember 1916 (Staatsblad No. 114 Tahun 1917) yang pelaksanaannya dilakukan tahun 1918, dan anggota-anggotanya dilantik oleh Gubernur Jenderal Graaf van Limburg Stirum.

Dengan diterbitkannya PP No. 39/1950 tentang Pembentukan DPRD Sementara (DPRDS), maka awal Januari 1951 dibentuklah DPRDS Tangerang, yang para anggotanya diajukan oleh partai politik dan organisasi tertentu di Tangerang. Adapun penentuan jumlah wakil dari tiap-tiap partai didasarkan kepengurusan yang ada di tingkat kecamatan. Pembentukan DPRDS Tangerang tersebut diikuti tidak kurang dari 13 organisasi dan partai politik yang memiliki cabang di Tangerang. Adapun komposisi keanggotaan DPRDS Tangerang pada waktu itu adalah sebagai berikut: Partai Masyumi diwakili oleh 12 orang, Partai Murba diwakili oleh 3 orang, Partai Sarbumusi diwakili 1 orang, Partai Serikat Buruh Mobil diwakili 1 orang, Partai Sosialis diwakili 1 orang, PGRI diwakili 1 orang, Pergerakan Tani diwakili 1 orang, Partai Baperki diwakili 1 orang, Partai Rakyat Nasional diwakili 1 orang, Partai Acoma diwakili 1 orang, PNI diwakili 1 orang, dan Pergerakan Wanita diwakili 1 orang.

Kehidupan Sosial Budaya
Penduduk Tangerang merupakan masyarakat campuran, yaitu suatu konglomerasi berbagai suku bangsa yang terkandas di muara Sungai Cisadane dalam beberapa abad yang lampau. Penduduk yang mendiami wilayah Tangerang tidak sedikit yang berasal dari para keturunan prajurit Sultan Agung dari Mataram yang pernah melakukan penyerangan ke Batavia (Jakarta). Selain itu, ada pula keturunan para tawanan kompeni dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam perkembangannya kemudian, terjadilah asimilasi dari berbagai bangsa, sehingga akhirnya terciptalah suatu kelompok masyarakat yang khusus sifatnya.

Proses asimilasi inilah yang pada akhirnya melahirkan corak sosial budaya dan kesenian yang khas di Tangerang. Salah satu kelompok masyarakat yang memegang peranan penting di daerah Tangerang adalah golongan agama, terutama Islam, karena mayoritas penduduk di daerah ini beragama Islam.

Kehidupan agama Islam di daerah ini banyak mendapat pengaruh dari daerah Banten. Salah satu cirinya adalah tumbuhnya beberapa pondok pesantren yang dipimpin oleh para kiayi yang memiliki pengaruh cukup besar di kalangan masyarakat. Adapun pesantren yang berkembang di daerah Tangerang pada ketika itu adalah; Pesantren Doyong di Desa Jati, Kecamatan Curug, yang dipimpin oleh KH. Rasihun, Pesantren Tigaraksa yang dipimpin oleh KH. Imran, dan Pesantren Tegal Kunir yang dipimpin KH. Kasiman. Keberadaan pesantren-pesantren tersebut memiliki peran yang cukup besar dalam menyebarluaskan nilai-nilai keagamaan dan ajaran Islam dalam kehidupan masyarakat Tangerang.

Kehidupan sosial dan budaya di daerah Tangerang tak terlepas dari kehadiran para tuan tanah yang menjadi ‘raja kecil’ di daerah ini. Di samping para tuan tanah yang merupakan golongan masyarakat elit setempat, muncul pula golongan masyarakat lainnya yang lebih dikenal dengan sebutan jawara. Umumnya, kelompok jawara ini berasal dari orang-orang desa yang memiliki kemampuan yang lebih di bidang ilmu bela diri dan kebatinan. Sebagian dari mereka biasanya adalah bekas orang-orang hukuman, atau setidak-tidaknya pernah membuat kericuhan di lingkungannya masing-masing.

Munculnya kelompok jawara, tidak terlepas dari perkembangan sistem pemilikan tanah yang tidak seimbang atau tidak adil antara orang-orang Cina dan pribumi, serta jumlah penduduk yang makin bertambah. Dalam kondisi kehidupan yang sulit itulah banyak anggota masyarakat yang menerjunkan diri menjadi jawara sebagai mata pencaharian mereka dengan mengandalkan kekuatan fisik dan ilmu bela diri yang mereka miliki
Para tuan tanah di tanah partikelir, umumnya selalu memanfaatkan tenaga para jawara. Di antara para jawara itu, ada yang diangkat menjadi Cutak (Kepala Polisi Tuan Tanah) yang ditugaskan sebagai pengawal pribadi dan keluarga tuan tanah, serta menarik cukai (pajak) dari penduduk setempat.

Secara tidak langsung, peranan para tuan tanah pun banyak memupuk kehidupan para jawara yang dikenal sebagai jagoan. Pemupukan itu sendiri, salah satunya lewat perjudian. Misalnya, judi koprok, cimplong, rolet, cekih, capsa, domino, dan sabung ayam. Biasanya, yang menjadi bandar judi adalah orang-orang dari kalangan jawara. Aspek lainnya dari kehidupan para tuan tanah dan jawara itu adalah memungkinkan tumbuhnya jenis-jenis kesenian olahan. Kesenian olahan ini merupakan perpaduan unsur-unsur kebudayaan Cina, Melayu, Jawa, Sunda, dan Betawi. Ragam kesenian itu antara lain; Gambang Keromong, Tanjidor, Cokek, Topeng, Wayang Golek, Wayang Potehi, dan lain-lain.

Situasi Pemerintahan
Pada tanggal 8 Maret 1942 Pemerintahan Hindia Belanda secara resmi telah berakhir. Selanjutnya Indonesia memasuki babak baru yang berada di bawah kekuasaan Pemerintah Pendudukan Militer Jepang. Dan, Pemerintah Militer Jepang ini membagi wilayah Indonesia menjadi 3 (tiga) daerah pemerintahan: Wilayah Sumatera berada di bawah kekuasaan tentara ke-25 Angkatan Darat, dengan pusatnya di Bukittinggi, Wilayah Jawa, Madura dan Bali, berada dibawah kekuasaan tentara ke-16 Angkatan Darat, dengan ibukotanya di Jakarta, Wilayah Indonesia Timur yang meliputi Kalimantan, Sulawesi dan Maluku, berada di bawah kekuasaan armada selatan ke-2 angkatan laut.

Untuk wilayah Pulau Jawa, pengelolaan pemerintahannya didasarkan pada Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1942 yang dikeluarkan setelah Jepang berkuasa. Undang-undang tersebut menjadi pedoman pokok dari peraturan tatanegara pada waktu itu. Karena waktu itu azas pemerintahannya adalah pemerintahan militer, maka secara otomatis Panglima Tentara ke-16 menjadi pucuk pimpinan pemerintahan yang dijabat oleh Letnan Jenderal Hitoshi Imamura. Ia diserahi tugas untuk membentuk pemerintahan militer di Jawa, yang kemudian diangkat sebagai Gunseikan. Selanjutnya, staf pemerintahan militer pusat ini dinamakan Gunseikanbu yang dalam menjalankan tugasnya itu membawahi kurang lebih lima departemen.

Dalam lingkungan Karesidenan Batavia, Pemerintah Militer Jepang membentuk dua kabupaten (ken), yaitu Kabupaten Jakarta, dan Kabupaten Krawang, serta sebuah tokubetusi (kotapraja) Jakarta. Sedangkan untuk daerah Tangerang sendiri, sehubungan dengan penyelenggaraan pemerintahan ini yang tidak mengalami perubahan apa-apa, maka status Tangerang pada masa Pemerintahan Militer Jepang masih tetap menjadi Kewedanaan, seperti yang terjadi pada masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.

Pada akhir tahun 1943 barulah status Tangerang ditetapkan sebagai Kabupaten. Hal ini berdasarkan keputusan Syuutyookan Jakarta yang dimuat dalam Kampo (berita pemerintah) tentang kepindahan Jakarta Ken Kakuso ke Tangerang. Selain itu, Jakarta pun ditetapkan sebagai Tokubetsu si (Kotapraja Istimewa).

Pembentukan Tangerang sebagai Kabupaten (27 Desember 1943), dimaksudkan untuk kelancaran urusan pemerintahan. Apalagi Pemerintah Kabupaten Jakarta dianggap tidak efektif untuk membawahi Tangerang yang wilayahnya cukup luas itu.

Berbagai Julukan
Tangerang yang pernah menjadi kota pelabuhan pada masa Kerajaan Sunda, seiring dengan perkembangan zaman, maka Tangerang pun pernah dijuluki sebagai “Kota Kerajinan”. Julukan Kota Kerajinan bagi Tangerang, tidak bisa dilepaskan dari peranan dan jasa, Franschman Petit Jean, seorang warga negara Prancis yang menetap di Tangerang. Pada tahun 1882, Petit Jean mendirikan usaha kerajinan anyaman Topi Panama atau lebih dikenal dengan sebutan Topi Tangerang.

Ternyata, usaha kerajinan Topi Panama yang dirintis oleh Petit Jean tersebut mengalami kemajuan yang cukup pesat. Pada tahun 1887, Topi Panama buatan Tangerang yang sudah kesohor itu pun sanggup mengekspor 145 juta topi ke berbagai negara di seluruh dunia. Sejak itu, Tangerang mengekspor sekitar 4 juta hingga 5 juta topi ke luar negeri setiap tahunnya. Volume ini terus meningkat. Bahkan, pada tahun 1919, topi yang diekspor ke luar negeri mencapai 6 juta topi. Melihat sejarah perindustrian di Tangerang waktu itu, tidak heran jika Tangerang pun tidak hanya menjadi salah satu kawasan industri pemerintah, tetapi juga telah bermunculan berbagai home industri kerajinan, terutama kerajinan topi dan kerajinan-kerajinan anyaman lainnya. Inilah yang menjadikan Tangerang dijuluki sebagai Kota Kerajinan.

Sebutan Kota Kerajinan bagi Tangerang perlahan-lahan mulai hilang dan tidak terdengar lagi. Selanjutnya, Tangerang pun mendapat julukan yang baru sebagai Kota Seribu Industri. Julukan ini mulai popular pada tahun 1984 hingga 1996 yang merupakan zaman keemasan bagi daerah Tangerang.

Waktu itu, telah terjadi semacam peralihan dari pertanian ke industri. Peralihan ini tak bisa dilepaskan dengan dikeluarkannya Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 1976 yang menetapkan daerah Tangerang sebagai wilayah pengembangan Jabotabek--yang dipersiapkan untuk mengurangi ledakan penduduk dari Provinsi DKI Jakarta.

Diterbitkannya Keppres Nomor 13 Tahun 1976, disadari ataupun tidak telah memberikan keuntungan bagi Tangerang dengan banyaknya investor yang berdatangan ke daerah ini. Akibatnya, kondisi dan komposisi sumber PAD (pendapatan asli daerah) mulai agak terbalik. Persentase sektor industri mulai mendekati pertanian. Kendati demikian, ada pula sisi negatifnya, yakni banyak sawah irigasi teknis yang dijual masyarakat untuk kemudian menjadi tanah industri.(Dikuitip dari Buku Hari Jadi Kabupaten Tangerang ke-66 "Bunga Rampai Kabupaten Tangerang")

INDIKATOR KINERJA PENYULUHAN PERTANIAN



Dalam rangka memotivasi dan membangun profesionalisme penyuluh berkaitan dengan penyelenggaraan penyuluhan pertanian perlu dibuat indikator kinerja penyuluhan pertanian. Adapun indikator kinerja penyuluhan pertanian dan alat verifikasinya sebagai berikut :

A. INDIKATOR KINERJA PENYULUHAN PERTANIAN
1. Tersusunnya programa penyuluhan pertanian sesuai dengan kebutuhan petani (desa,  kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional);
2.   Tersusunnya rencana kerja penyuluh pertanian di wilayah kerja masing-masing;
3.   Tersusunnya peta wilayah komoditas unggulan spesifik lokasi;            
4.   Terdesiminasinya informasi teknologi pertanian secara merata dan sesuai dengan kebutuhan petani;
5. Tumbuhkembangnya keberdayaan dan kemandirian petani, kelompoktani, gabungan kelompoktani/asosiasi petani dan korporasi;
6.   Terwujudnya kemitraan usaha antara petani dengan pengusaha yang saling menguntungkan;
7.  Terwujudnya akses petani ke lembaga keuangan, informasi, sarana produksi pertanian dan pemasaran;
8.   Meningkatnya produktivitas agribisnis komoditi unggulan di masing-masing wilayah kerja; 
9.   Meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani di masing-masing wilayah kerja.

MATERI PENYULUHAN : BENIH, PERSEMAIAN DAN BIBIT PADI SAWAH



1. Varietas Unggul
Varietas unggul merupakan salah satu teknologi utama yang mampu meningkatkan produktivitas padi dan pendapatan petani.
TABEL 1.       DAFTAR VARIETAS PADI YANG UMUM DITANAM
DI  BERBAGAI PROPINSI
NO
VARIETAS
HASIL
(TON/ HA)
UMUR
(HARI)
KETERANGAN
1
IR-64
5,0
115

2
Ciherang
8,5
125

3
Ciliwung
4,8
121

4
Way Apo Buru
8,0
125

5
IR-42
5,5
145

6
Widas
7,0
120

7
Membramo
6,5
120

8
Cisadane
5,5
120

9
IR-66
5,0
120

10
Cisokan
5,0
120

11
Cirata
5,0
125

12
IR-36
4,5
120


2. Benih Bermutu
2.1 Keuntungan
Penggunaan benih bersertifikat dan benih dengan vigor tinggi sangat disarankan, karena :
a.        Menghasilkan bibit yang sehat dengan akar yang banyak
b.        Menghasilkan perkecambahan dan pertumbuhan yang seragam
c.        Dapat tumbuh lebih cepat dan tegar ketika dipindah tanamkan
d.        Akan memperoleh hasil yang tinggi

2.2 Cara Memilih Benih
Untuk memilih benih yang baik :
·            Benih direndam dalam larutan garam 20 gram/ liter air.
·            Atau untuk menentukan jumlah garam dengan menggunakan indikator telur, caranya masukan telur dalam air, masukan garam sedikit demi sedikit sampai telur mengapung. Baru masukan gabah.
·            Benih yang mengapung/ mengambang dibuang
·            Sebelum disemaikan benih harus dibilas dengan air bersih dulu

3. Bibit Muda
Bibit muda akan menghasilkan anakan produktif lebih banyak dari pada menggunakan benih tua. Namun pada endemis keong mas dianjurkan menggunakan benih lebih tua.

3.1 Persiapan Persemaian
a. Lokasi persemaian dekat dengan sumber air dan memiliki drainase yang baik
b. Pembuatan bedengan persemaian, dengan ukuran lebar 120 Cm dan panjang disesuaikan dengan keadaan
c. Campurkan setiap m2 bedengan dengan 2 kg bahan organik seperti kompos, pupuk kandang untuk memudahkan pencabutan bibit dan mengurangi kerusakan akar

3.2 Perlakuan Benih
a.  Benih direndam selama 24 jam, sebaiknya pada air mengalir.
b.  Setelah itu ditiriskan 48 jam dalam karung goni yang lembab.
c. Benih disebar merata pada persemaian sekitar satu genggam untuk setiap m2.
d. Bibit siap tanam <21 hari
3.3 Lindungi Bibit dari Serangan Hama
Tikus sangat menggemari benih padi yang baru disebar. Oleh karena itu berbagai usaha pengendalian hama tanaman perlu dilakukan saat pembibitan. Buat pagar plastik mengelilingi persemaian untuk mencegah serangan hama tikus.

4 Jumlah Bibit dan Sistem Tanam (Populasi)
-       Direkomendasikan menanam bibit per rumpun dengan jumlah lebih sedikit, 1, 2 atau paling banyak 3 bibit per rumpun.
-       Gunakan jarak tanam  beraturan dengan menggunakan caplak, seperti 20 X 20 Cm (25 rumpun/ m2), atau 25 X 25 Cm (16 rumpun/ m2)
-       Dapat menggunakan sistem tanam Legowo 4:1, 3:1 atau 2:1
Keuntungan Legowo :
-       Semua barisan rumpun tanaman bagian pinggir memberi hasil lebih tinggi (efek tanaman pinggir)
-       Pengendalian hama, penyakit dan gulma lebih mudah