Jumat, 30 Maret 2012

WARTA BPP : TEMU LAPANG PANEN PADI DI KELOMPOK TANI SUMBER SRI DESA CIKANDE KECAMATAN JAYANTI

Kamis tanggal 29 Maret 2012, Kelompok Tani Sumber Sri Desa Cikande Kecamatan Jayanti Kabupaten Tangerang telah melaksanakan Temu Lapang dalam rangka Ubinan Panen Padi Sawah pada Musim Tanam 2011/2012. Hasil Ubinan adalah sebagai berikut :

NO VARIETAS UBINAN PRODUKTIVITAS JUMLAH RATA-RATA JUMLAH JUMLAH  JUMLAH JAR-TAN LEGOWO
(Kg) (Ton/Ha) RUMPUN ANAKAN BULIR BERNAS HAMPA (cm)
1 INPARI 10 5.00 8.00 154 16 139 121 18 20 X 20 4 : 1
2 CIHERANG 4.40 7.04 140 15 139 111 28 20 X 20 4 : 1
3 CIHERANG 4.70 7.52 140 17 126 107 19 20 X 20 10 : 1
Dihadiri 29 orang pengurus kelompok tani se Kecamatan Jayanti, serta KTNA, Pelnis dan Penyuluh se BPP Kaliasin, acara Temu Lapang ini dilanjutkan dengan diskusi membahas hasil ubinan dan uraian budidaya padi oleh Penyuluh Kecamatan jayanti, H.Sopandi.
Acara diakhiri makan bersama.

MATERI PENYULUHAN : BERCOCOK TANAM KACANG PANJANG



I. PENDAHULUAN

1.1      Mengenal Tanaman Kacang Panjang
Kacang Panjang (Vigna sinensis) merupakan salah satu jenis sayuran polong. Tanaman semusim ini berbentuk perdu yang tumbuh menjalar/ merambat.
Daunnya berupa daun majemuk terdiri dari tiga helai, batangnya liat dan sedikit berbulu. Buahnya berbentuk bulat panjang dan ramping.
Bagian tanaman yang dapat dikonsumsi yaitu buah (polong) dan daun mudanya. Banyak mengandung vitamin A. Bijinya banyak mengandung protein, lemak dan karbohidrat.
Kandungan gizi Kacang Panjang per 100 gram sebagaimana Tabel 1 dibawah ini.
Tabel 1. Kandungan Zat Gizi Kacang Panjang per 100 gram Bahan Mentah
JENIS ZAT GIZI
SATUAN
KANDUNGAN
POLONG
BIJI
DAUN
Kalori
Karbohidrat
Lemak
Protein
Kalsium
Fosfor
Besi
Vitamin A
Bitamin B
Vitamin C
Air
Bagian yg dapat
dimakan
Kal
Gr
Gr
Gr
Mg
Mg
Mg
SI
Mg
Mg
Gr
%
44,00
7,80
0,30
2,70
49,00
347,00
0,70
335,00
0,13
21,00
88,5
75,00
357,00
70,00
1,50
17,30
163,00
437,00
6,90
0,00
0,57
2,00
12,20
100,00
34,00
5,80
0,40
4,10
134,00
145,00
6,20
5.240,00
0,28
29,00
88,30
65,00
Sumber : Depkes (1990) dalam Eko Haryanto dkk (1994)
Kacang Panjang merupakan sayuran yang dapat diolah menjadi berbagai macam masakan  seperti : sayur asem, sayur lodeh, gado-gado dan sebagainya. Selain itu dapat juga dimakan mentah sebagai lalapan. Rasanya enak, renyah dan gurih.

1.2 Syarat Tumbuh
a. Iklim
-    Tinggi tempat 0-1.500 meter dpl, tumbuh optimal < 600 meter dpl
-    Temperatur antara 18-32º C dengan suhu udara optimal 25º C
-    Curah hujan antara 600-2.000 mm/ tahun
-    Sinar matahari penuh
b. Tanah
-    Jenis tanah Regosol, Latosol dan Aluvial
-    Tanah gembur, kaya bahan organic
-    Aerasi tanah baik
-    pH tanah 5,5-6,5
-    Lahan tidak terlindung (terbuka)

1.3 Jenis dan Varietas Kacang Panjang
a. Jenis-jenis Kacang Panjang
Pada dasarnya Kacang panjang ada dua jenis, yaitu  yang merambat dan tidak merambat. Kacang Panjang yang merambat  biasa disebut Kacang Panjang lanjaran terdiri dari Kacang Panjang Biasa dan Kacang Panjang Usus.

(1) Kacang Panjang Biasa
Ciri-ciri :
-    Batang panjang dan membelit
-    Panjang buah (polong) sekitar 40 Cm, warna buah muda hijau setelah tua menjadi putih
-  Biji berbentuk bulat panjang agak pipih, warna putih, hitam, coklat atau kuning kemerah-merahan
(2) Kacang Usus
Ciri-ciri :
-  Batang seperti Kacang panjang biasa
-  Buah panjang sekali (mencapai 80 Cm), warna buah muda keputih-putihan setelah tua jadi kekuning-kuningan
-  Daun agak kasar
-  Biji berbentuk bulat panjang, agak pipih, warna kuning coklat
b. Varietas Kacang Panjang
Varietas atau kultivar Kacang Panjang membelit/ lanjaran banyak jumlahnya diantaranya varietas lokal : Purwokerto, Cikole, Subang, Super Subang, Usus Hijau Subang, Bojong, Super Cisadane dsb, varietas unggul : KP1 No.1019. KP2 dan Varietas Usus Hijau.

  II TEKNIS BUDIDAYA
2.1 Pengolahan Tanah
Urutan pengolahan tanah untuk Kacang panjang adalah :
-  Buang rumput-rumput dan tanaman liar
-  Olah tanah dengan cangkul, bajak atau menggunakan traktor sedalam 20-30 Cm, biarkan selama 1-2 minggu dan ulangi olah tanah kedua
-  Buat bedengan/ guludan lebar 60-80 Cm tinggi 30 Cm memanjang arah timur-barat
-  Pada tanah yang kurang subur tambahkan pupuk kandang sebanyak 10-20 ton/ hektar

2.2 Penanaman
Waktu tanam yang baik pada awal atau akhir musim hujan. Benih dapat langsung ditanam dengan cara ditugal sedalam 4-5 Cm dengan jarak tanam 25-30 Cm dalam barisan dan 60-75 Cm antar barisan, tiap lubang ditanam 2 butir benih, kemudian ditutup dengan tanah/ pupuk kandang tipis-tipis.

2.3 Pemupukan
a. Dosis Pemupukan
Kebutuhan pupuk per hektar :
- Pupuk Kandang               : 10-20 Ton
- Pupuk Urea                             : 100 Kg
- Pupuk SP-36                 : 100 Kg
- Pupuk KCl                      : 100 Kg
b. Waktu Pemupukan
- Pemupukan Dasar
-  Diberikan bersamaan dengan tanam, yakni pupuk kandang 10-20 Ton, Urea 50 Kg, SP-36 100 Kg dan KCl 100 Kg per hektar
- Pemupukan Susulan
-  Dilakukan pada umur 3-4 minggu yakni Urea 50 kg per hektar

c. Cara Pemupukan
-  Pupuk kandang dicampur merata dengan tanah saat pengolahan tanah
-  Pada pemupukan dasar, Urea, SP-36 dan KCl dicampur merata dan disebar merata dimasukan kedalam tanah atau dalam larikan  dengan jarak 5-7 Cm dari lubang tanam dan ditutup dengan tanah
-  Pemberian pupuk susulan yakni Urea diberikan dalam larikan diantara barisan tanaman atau ditugalkan sejauh 20-25 Cm dari tanaman

2.4 Pemasangan Ajir
Pemasangan ajir diusahakan seawall mungkin sekitar 1-2 minggu setelah tanam (saat tinggi tanaman 20-25 Cm).Tinggi ajir antara 150-250 Cm, dipasang berbentuk huruf “A”, segitiga, bentuk pagar atau bentuk pyramid segi empat.

2.5 Penyiangan dan Penyiraman
Penyiangan dilakukan pada umur 3 dan 6 minggu setelah tanam dengan membuang gulma dan menggemburkan tanah.
Penyiraman disesuaikan dengan keadaan cuaca terutama pada fase awal. Usahakan tanah selalu lembab tetapi tidak becek.

2.7 Pengendalian OPT
Hama yang umum menyerang Kacang Panjang diantaranya Lalat Kacang, Kutu Daun, Ulat Grayak dan Ulat Penggerek Polong.  Dapat diberantas dengan pestisida anjuran. Yang terpenting adalah pengamatan secara rutin dan tetap menerapkan PHT serta menghindarkan penggunaan Pestisida.
          Penyakit yang umum menyerang Kacang Panjang  diantaranya Antraknose, Penyakit Sapu, Penyakit Layu Bakteri yang dapat diupayakan dengan fungisida.

2.8 Panen dan Pasca Panen
Umur Kacang Panjang sampai dpat dipanen sekitar 45 hari, panen dilakukan setelah polong terisi penuh dan warna polong hijau merata sampai hijau keputih-putihan, sebaiknya dilakukan pagi hari sekitar jam 07.00-09.00.
Cara panen, yakni polong dipetik dengan memutar bagian pangkal polong agar terlepas seluruhnya dan tidak menimbulkan luka. Pemetikan dapat dilakukan 5-15 kali dalam satu musim tanam. Produksi polong muda dapat mencapai 4-9 Ton per hektar.
Pelaksanaan pasca panen diantaranya adalah sortasi berdasarkan kualitas dan keseragaman. Selain itu hasil panen dikemas dalam ikatan besar seberat 250-2.000 gram per ikat serta dimasukan dalam peti/ keranjang.

Kamis, 29 Maret 2012

MATERI PENYULUHAN : TEKNIS BERCOCOK TANAM TERUNG


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Terung (Solanum melongena L) termasuk suku Solanaceae dan termasuk tanaman setahun yang berbentuk perdu. Buahnya beraneka ragam bentuk dan warnanya. Kulit buah liat tapi kalau digigit renyah. Kebanyakan buahnya tunggal walaupun bunganya terdapat dalam satu tandan tetapi yang dapat menjadi buah hanya satu, bunga berbentuk terompet dengan bentuk biji gepeng.
Tanaman terung dapat ditanam dimana saja mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Perawatannya mudah, bahkan lebih mudah dari tanaman tomat karena lebih tahan terhadap penyakit layu dan tahan terhadap banyaknya hujan. Tanam terung yang baik adalah pada awal musim kemarau atau pada musim hujan.

1.2 Jenis-jenis Terung
a. Terung Kopek
Buah bulat panjang dengan ujung tumpul, warna ungu atau keputih-putihan
b. Terung Craigi
Buah bulat panjang dengan ujung runcing, ada yang lurus ada pula yang bengkok, warna buah ungu
c. Terung Bogor (Terung Kelapa)
Buah bulat besar, berwarna putih atau hijau keputih-putihan, rasanya renyah agak ketir, biasa untuk lalap
d.  Terung Gelatik (Terung Lalap)
Buahnya seperti terung bogor tetapi kecil, warnanya ungu atau putih keungu-unguan,rasanya langu tetapi tidak getir, hanya dimakan mentah sebagai lalap

1.3 Syarat Tumbuh
a. Iklim
Terung menghendaki iklim panas tapi tahan bila ditanam di musim hujan asal tanahnya tidak becek. Dapat ditanam mulai di daratan rendah sampai ketinggian 1.200 meter dpl
b. Tanah
Terung memerlukan tanah yang gembur, mudah meresap air, lebih bagus lagi pada tanah lempung berpasir serta banyak mengandung pupuk organik  dengan pH berkisar 5,0-6,0 

2.6 Pemeliharaan
a. Penyiangan
Penyiangan perlu dilakukan sambil menggemburkan tanah, dilakukan pada umur 2-3 minggu dengan cara mencabut tanaman pengganggu (gulma)
b. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor/ emrat yang berlubang halus, diupayakan agar tanah tetap lembab jangan sampai becek.

2.7 Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman
a. Kutu Daun dan Tungau
Dikendalikan dengan penyemprotan pestisida yang dianjurkan
b. Penyakit Busuk Buah
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Phomopsis  vexans, pencegahan dapat dilakukan dengan fungisida anjuran seperti Dithane 45 0,2-0,3%
c. Penyakit Gugur Daun
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Verticilium alboatrum,  pencegahan dapat dilakukan dengan fungisida anjuran seperti Dithane 45 0,2-0,3%


II BERCOCOK TANAM
 
2.1 Benih
Tanaman terung diperbanyak dengan biji, sebaiknya melalui persemaian. Persemaian dapat berupa persemaian lapangan, kotak maupun polybag. Kebutuhan benih sekitar 150-500  Gr. Sebelum ditanam sebaiknya dijemur dibawah sinar matahari selama 2-3 jam mulai pukul 09.00-12.00

2.2 Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah dengan cara mencangkul sedalam 20-30 Cm dilakukan sampai tanah benar-benar gembur dan pemberian pupuk kandang sebanyak 10-20 Ton/ Hektar.
Buat  bedengan dengan ukuran lebar 120 Cm dan panjang sesuai kebutuhan dengan tinggi 20 Cm serta lebar antar bedengan 30 Cm untuk drainase serta untuk memudahkan pemeliharaan

2.3 Persemaian
Bedengan persemaian  dengan ukuran lebar 120 Cm panjang secukupnya dan tinggi  20 Cm. Setelah diberi pupuk kandang benih ditaburkan merata. Untuk memudahkan penanaman dan pengangkutan, dapat pula disemai dalam kotai atau polybag. Lakukan pemeliharaan persemaian seperti pemupukan dengan pupuk an-organik, penyiraman maupun pengendalian organisme pengganggu tanaman.
Bibit terung sudah dapat dipindahtanamkan setelah berumur 1-1,5 bulan atau telah berdaun 4-5 helai.

2.4 Penanaman
Sebelum penanaman, pada bedengan pertanaman dapat dibuat lubang tanam dengan jarak tanam 60 X 60 Cm atau 60 X 90 Cm pada lahan sawah atau 70 X 80 Cm pada lahan darat. Taburkan pupuk kandang atau kompos sebanyak 0,5 Kg per lubang. Tanamlah bibit terung 1 pohon setiap lubangnya.

2.5 Pemupukan
Kebutuhan pupuk an-organik untuk pertanaman  terung adalah sebanyak 175 Kg/ Hektar, SP-36 100-200 Kg/ Hektar dan KCl 100 Kg/ Hektar.
Pemupukan dasar diberikan pada umur 2 minggu setelah tanam dengan  dosis  Urea  100 Kg/ Hektar,  SP-36 100-200 Kg/ Hektar
dan KCl 50 Kg/ Hektar dengan cara dibenamkan dalam larikan atau ditugal dengan jarak 5-10 Cm dari tanaman. Sedangkan pemupukan susulan dilakukan pada umur 2,5-3 bulan dengan dosis pupuk Urea 75 Kg/ Hektar dan KCl 50 Kg/ Hektar. Pemberian pupuk susulan ini sebaiknya dilakukan bersamaan dengan waktu pendangiran.

2.6 Pemeliharaan
a. Penyiangan
Penyiangan perlu dilakukan sambil menggemburkan tanah, dilakukan pada umur 2-3 minggu dengan cara mencabut tanaman pengganggu (gulma)
b. Penyiraman
Penyiraman dilakukan dengan menggunakan gembor/ emrat yang berlubang halus, diupayakan agar tanah tetap lembab jangan sampai becek.

2.7 Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman
a. Kutu Daun dan Tungau
Dikendalikan dengan penyemprotan pestisida yang dianjurkan
b. Penyakit Busuk Buah
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Phomopsis  vexans, pencegahan dapat dilakukan dengan fungisida anjuran seperti Dithane 45 0,2-0,3%
c. Penyakit Gugur Daun
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Verticilium alboatrum,  pencegahan dapat dilakukan dengan fungisida anjuran seperti Dithane 45 0,2-0,3%



MATERI PENYULUHAN : PEMANFAATAN PEKARANGAN

1.     PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ditinjau dari potensi sumberdaya wilayah, sumberdaya alam wilayah BPP Kaliasin memiliki potensi ketersediaan pangan yang beragam dari satu wilayah ke wilayah lainnya, baik sebagai sumber karbohidrat maupun protein, vitamin dan mineral, yang berasal dari kelompok padi-padian, umbi- umbian, pangan hewani, kacang-kacangan, sayur dan buah serta biji berminyak.

Untuk meningkatkan gizi terutama pada gizi mikro masyarakat pada umumnya dan keluarga pada khususnya, dapat dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia dilingkungannya. Salah satu upaya pemberdayaan masyarakat tersebut di atas adalah dengan pemanfaatan pekarangan yang dikelola oleh keluarga tani-nelayan sehingga mudah untuk pemeliharaan dan pemanenan hasilnya.

Lahan pekarangan sudah lama dikenal dan  memiliki fungsi multiguna. Fungsi pekarangan adalah untuk menghasilkan :
(1) bahan makan sebagai tambahan hasil sawah dan tegalnya;
(2) sayur dan buah-buahan;
(3) unggas, ternak kecil dan ikan;
(4) rempah, bumbu-bumbu dan wangi-wangian;
(5) bahan kerajinan tangan;
(6) obat keluarga, serta
(7) uang tunai.

Usaha di pekarangan jika dikelola secara intensif sesuai dengan potensi pekarangan, disamping dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, juga dapat memberikan sumbangan pendapatan bagi keluarga. Dari hasil penelitian, secara umum pekarangan dapat memberikan sumbangan pendapatan keluarga antara 7% sampai dengan 45%.

1.2 Pengertian – Pengertian
a. Pekarangan adalah sebidang tanah di sekitar rumah (bagian depan, samping maupun belakang) yang mudah di usahakan dengan tujuan untuk meningkatkan pemenuhan gizi mikro melalui perbaikan menu keluarga, dan biasanya dibatasi dengan pagar.
b. Pemanfaatan Pekarangan adalah pekarangan yang dikelola melalui pendekatan terpadu berbagai jenis tanaman, ternak dan ikan, sehingga akan menjamin ketersediaan bahan pangan yang beranekaragam secara terus menerus, guna pemenuhan gizi keluarga.

2.     TUJUAN DAN SASARAN
2.1 Tujuan
a. Memenuhi kebutuhan gizi mikro keluarga secara berkesinambungan melalui kegiatan pemanfaatan pekarangan.                                                     
b. Meningkatkan keterampilan keluarga tani-nelayan dalam budidaya tanaman, ternak dan ikan, sekaligus pengolahannya dengan teknologi tepat guna.
c.  Meningkatkan pendapatan keluarga tani-nelayan.

2.2 Sasaran
Berkembangnya kemampuan wanita tani-nelayan dalam mengelola pekarangannya dalam memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarganya.

3.     PELAKSANAAN PEMANFAATAN PEKARANGAN
Pekarangan sering juga disebut sebagai warung hidup, apotek hidup, lumbung hidup maupun bank hidup.

3.1 Sebagai Warung Hidup
Pekarangan yang berfungsi sebagai warung hidup adalah pekarangan yang dimanfaatkan dengan menanami dengan tanaman, ternak maupun ikan yang dapat dipanen untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Warung hidup diartikan agar pekarangan menghasilkan yang biasa dibeli sehari-hari dari warung. Untuk pelaksanaannya pekarangan dapat ditanami berbagai jenis tanaman sayuran seperti; bayam, kangkung, mentimun, kacang panjang, terung, sawi dll, tanaman bumbu/ rempah seperti; jahe, kencur, kunyit, serei dll, ternak penghasil daging dan telur seperti; ayam, itik dll, maupun ikan seperti lele, nila dsb.






3.2 Sebagai Apotek Hidup
Dapat pula pekarangan berfungsi sebagai apotek hidup, dimana pekarangan ditanami berbagai jenis tanaman yang dapat dijadikan obat keluarga (TOGA). Tanaman obat keluarga tersebut diantaranya adalah; sembung, saga, tapak dara, mahkota dewa, daun dewa, brotowali, temu-temuan, mengkudu, mangkokan, meniran, dll.
 
3.3 Sebagai Lumbung Hidup
Dalam memenuhi kebutuhan karbohidrat, pekarangan dapat berfungsi sebagai lumbung hidup, dimana pekarangan ditanami dengan tanaman palawija yang banyak mengadung karbohidrat, seperti ubikayu, ubijalar, jagung, talas dll. Pada masa lalu, ketika masih ada musim “paceklik” dimana masa belum panen padi, peran pekarangan sebagai lumbung hidup ini sangat berarti sekali, sebagai pengganti padi/ beras pekarangan dapat menghasilkan jagung maupun umbi-umbian yang dapat dimasak sebagai pengganti nasi untuk konsumsi bahan makanan pokok.

3.4 Sebagai Bank Hidup
Pekarangan dapat pula berfungsi sebagai bank hidup, dimana pekarangan yang ditanami tanaman keras/ tahunnan yang dapat menghasilkan uang, tanaman ini merupakan investasi jangka panjang, yakni pekarangan yang ditanami tanaman buah-buahan seperti; rambutan, durian, sukun, mangga, belimbing, salak, lengkeng, alpukat maupun  tanaman kayu seperti albasiah, mahoni, jati dll.
Dalam mengelola lahan pekarangan sebaiknya kita menyusun suatu perencanaan penataan lahan pekarangan sehingga areal lahan yang akan dikelola dapat dimanfaatkan secara optimal dan produktif secara berkelanjutan.

4. PERENCANAAN POLA/ MODEL PEMANFAATAN PEKARANGAN
Berikut panduan perencanaan dalam upaya pemanfaatan lahan pekarangan: 
        
4.1 Pengolahan Lahan (Tanah) Tahap ini merupakan tahap awal dalam berkebun. Lahan perlu dibersihkan dari tanaman liar. Upayakan pembersihan lahan tidak menggunakan bahan kimia karena residunya dalam tanah akan mengurangi produktivitas tanah. Bila tanah berwarna gelap dan gembur, kita hanya perlu memberikan pupuk tambahan pada saat penanaman. Sedangkan bila tanah berwarna agak terang, pucat, dan padat maka kita perlu mengolahnya secara intensif dengan mencangkul untuk mengemburkan tanah dilanjutkan dengan memberikan pupuk organik (pupuk kandang atau kompos) dan pupuk kimia (TSP, KCl, dan Urea maupun NPK) secara berimbang.
4.2 Menentukan Jenis Tanaman
Pilihlah jenis tanaman yang bermanfaat bagi keperluan rumah tangga baik untuk obat atau kesehatan keluarga (sembung, saga, tapak dara, mahkota dewa, daun dewa, brotowali, sambiloto, temu-temuan, mengkudu, mangkokan, meniran) dan keperluan dapur (cabe, tomat, sayuran; bayam, kangkung, mentimun, kacang panjang, terung, sawi) serta pelengkap gizi keluarga (dengan menanam pepaya , pisang , jeruk dan ternak ayam, itik serta ikan). Untuk tujuan estetika, pilihan tanaman yang memiliki figure menarik yakni berbagai jenis/ macam tanaman  hias lainnya.
4.3 Menentukan Tata Letak Tanaman
Dipandang dari sudut pandang habitatnya, pada prinsipnya semua tanaman memerlukan sinar matahari yang cukup sepanjang hari. Tempatkan jenis-jenis yang berukuran kecil mulai dari bagian Timur dan tempatkan jenis tanaman yang berukuran besar seperti buah-buahan di bagian sebelah Barat. Hal ini dimaksudkan agar jenis tanaman yang besar tidak menaungi/ menghalangi sinar matahari terhadap tanaman yang kecil. Demikian pula kerapatan dan populasi tanaman perlu diperhatikan karena mempengaruhi efisiensi penggunaan cahaya matahari serta persaingan antar tanaman dalam menggunakan air dan unsur hara. Aturlah tata letak sedemikian rupa yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan misalnya jangan sampai menghalangi jalan masuk, menghalangi pandangan, dan sebagian tanaman atau kotoran masuk ke areal kebun tetangga.


Dari segi estetika, penempatan tanaman yang berukuran lebih kecil seperti tanaman hias sebaiknya ditanam di pekarangan paling depan, tanaman buah-buahan sebaiknya ditanam dibelakang atau dipinggir letak bangunan rumah. Jemuran pakaian juga perlu mendapat perhatian penempatannya, jangan sampai didepan rumah, usahakan dihalaman bagian belakang.
Dan apabila dari sudut pandang kesehatan, penempatan kandang ternak sebaiknya di halaman bagian belakang.
Secara garis besar area atau daerah taman pekarangan pada umumnya dapat dibagi menjadi:
a.   Daerah umum (public area).
Taman yang kita buat dimaksudkan pada area ini selain dilihat dan dinikmati oleh penghuni rumah juga oleh siapa saja yang lewat di depan atau disekitar rumah kita.
b.   Daerah kesibukan (service area).
Taman yag kita buat pada area ini adalah untuk kesibukan penghuni rumah, misalnya tempat mencuci pakaian, mencuci piring atau lainnya. Pada area inipun dapat ditanam tanaman bumbu-bumbuan, sayur-sayuran atau tempat menanam tanaman obat-obatan. Begitu pula tempat anak-anak bermain.
Biasanya daerah ini diletakkan dekat dapur, dengan maksud bila mau ambil tanaman bumbu pada saat sedang memasak mudah dan dekat sehingga tidak memerlukan waktu yang lama, jadi masakannya tidak menjadi hangus. Begitupula tempat anak-anak bermain diletakkan didaerah ini, dengan maksud ibu atau pembantu rumah tangga atau penghuni rumah yang lainnya sambil bekerja, setiap saat dapat mengawasi anak-anak yang sedang bermain. Apalagi tiba-tiba ada anggota keluarga memerlukan tanaman obat-obatan, terutama pada malam hari dapat dengan mudah dan aman mengambilnya.
c.    Daerah pribadi (private area).
Daerah ini kita buat taman yang khusus untuk pribadi, misalnya tempat ibu atau bapak menanam tanaman hobbinyam trmpat"bertukang", melakukan penelitian yang paling hemat, aman, setiap saat dapat diamati. Daerah pribadi ini biasanya disediakan disamping rumah.
d.   Daerah famili (family area).
Daerah ini dapat dibuat taman untuk kepentingan keluarga, atau tempat berolah raga, atau tempat keluarga berkumpul, camping dan lainnya. Jangan lupa memikirkan tempat anak-anak dikala remaja bersantai. Taman untuk keluarga ini diberi tempat yang strategis dipekarangan bila pekarangannya luas.
Jadi dalam menentukan bentuk/ model pola pemanfaatan pekarangan akan berbeda satu sama lain, tergantung luas lahan pekarangan, luas dan bentuk serta tata letak bangunan rumah, jenis tanaman yang sudah ada maupun yang akan ditanam, keadaan ekonomi, keadaan lingkungan serta keinginan untuk mengelola dan memanfaatkan pekarangan secara maksimal.


4.4 Pemeliharaan
Tahap pemeliharaan baik untuk lahan maupun tanaman merupakan hal yang harus selalu diperhatikan. Penyiangan dilakukan dengan membersihkan lahan dari rumput-rumput liar, bertujuan untuk mencegah kompetisi nutrisi tanaman dari tanah selain untuk kebersihan dan keindahan. Sisa-sisa tanaman dan rumput sebaiknya dikeringkan lalu dikubur ke dalam tanah dalam-dalam karena dapat meningkatkan kesuburan tanah. Sisa tanaman ini dapat juga diproses untuk dijadikan pupuk organik atau kompos. Pemberian air dengan cara penyiraman secara kontinyu sangat penting terutama pada tanaman yang berumur muda dan baru tumbuh, untuk selanjutnya aktivitas penyiraman ini dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan lahan pekarangan apakah kekeringan atau basah (lembab). Salah satu upaya untuk mempertahankan ketersediaan air di lahan pekarangan adalah dengan membuat kolam.